Rabu, 31 Mei 2017

Over Kontrak Rumah

Over Kontrak
Lokasi Bandung Timur
Lantai ke 2:
2 Kamar Tidur utama:
2 Kamar bisa di pake kamar,bisa juga untuk Mushola
4 kamar mandi
2 Ruang Tamu/Tengah
Dapur
Teras luas
Akses jalan: Bisa masuk mobil
Nyimpan mobil/motor di halaman bawah
Kondisi: Sumber air dari air tanah. 
Akses dekat ke sekolah, pasar, bank,super market Harga sisa  Sewa 8bln: Rp 10.000.000

Selasa, 30 Mei 2017

Over Kontrak

Over Kontrak
Lokasi Bandung Timur
Lantai ke 2:
2 Kamar Tidur utama:
2 Kamar bisa di pake kamar,bisa juga untuk Mushola
4 kamar mandi
2 Ruang Tamu/Tengah
Dapur
Teras luas
Bisa masuk mobil
Nyimpan mobil/motor di halaman bawah
Kondisi: Sumber air dari air tanah. 
Akses dekat ke sekolah, pasar, bank,super market Harga sisa  Sewa 8bln: Rp 10.000.000

Rabu, 24 Mei 2017

Koreksi Diri

Satu demi satu terlihat jati dirinya
Itulah warna kehidupan orang lain,selalu terlihat
Lupa dirinya sendiri....
Seperti apa....
Bagaimana....

"Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan begitu nampak"

Itulah  kecenderungan orang untuk dengan mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, namun sebaliknya sangat sulit untuk melihat kesalahan atau kekurangan dirinya sendiri.
#semangatberhijrah #istiqomah

Rabu, 17 Mei 2017

Hukum Bunuh Diri

Hukum Bunuh Diri
Panjang umur dengan amal yang shalih lebih baik bagi seorang mukmin, sebagaimana sabda Nabi –shallallahu alaihi wasallam-:

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzy, di shahihkan oleh Albani)

beliau juga bersabda:

“Beruntunglah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.“ (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim, dishahihkan oleh Albani).

Kedua: Ada banyak hadits yang melarang kita mengharapkan kematian, diantaranya:

“Janganlah mengharapkan kematian, dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya! Karena amalnya akan terputus jika ajal menjemputnya, dan karena umur seorang mukmin tidak akan menambah keculi kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2682)

“Janganlah mengharapkan kematian, karena bisa jadi, ia adalah seorang yang baik, dan diharapkan kebaikannya akan bertambah. Dan bisa jadi, ia adalah seorang yang jelek, dan diharapkan ia berubah mengharapkan ridho Alloh (dengan taubat dan istighfar).” (HR. Bukhari, no. 7235)

“Janganlah mengharapkan kematian karena tertimpa musibah duniawi, jika terpaksa, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Alloh panjangkan hidupku, jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku’!” (HR. Bukhari, no. 5671, An-Nasa’i, no. 1820, dishahihkan oleh Albani)

Anas bin Malik radhiallahu’anhu mengatakan: “Seandainya aku tidak mendengar Nabi –shollallohu alaihi wasallam pernah bersabda ‘Janganlah mengharapkan kematian’, tentunya aku sudah mengharapkannya.” (HR. Bukhari, no. 7233)

Ketiga: Para ulama membedakan antara mengharapkan kematian karena fitnah (cobaan) duniawi, dengan mengharapkan kematian karena fitnah ukhrowi (agama). Yang pertama hukumnya makruh, yang kedua hukumnya boleh (Lihat Syarh Muslim, hadits no 2680, karya Imam An Nawawi). Rosulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dalam sebuah doanya, mengatakan: “Jika Engkau berkehendak memberikan fitnah (cobaan dalam agama) kepada hambamu, maka cabutlah (nyawa)ku dalam keadaan tidak tertimpa fitnah (cobaan) itu!“

Lajnah Da’imah (25/399) yang diketuai Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Mengharapkan kematian karena cobaan duniawi seperti sakit, miskin dsb, hukumnya makruh.“

Lajnah Da’imah (2/323) juga mengatakan: “Mengharapkan kematian tidak diperbolehkan, kecuali jika takut dengan fitnah (cobaan) dalam agamanya.“

Keempat: Boleh juga mengharapkan mati syahid, sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa memohon kepada Alloh mati syahid, maka Ia akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’ walaupun ia mati di atas ranjangnya.“ (HR. Muslim, no. 1909)

Kelima: Bunuh diri adalah dosa besar, karena adanya ancaman khusus baginya, sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahanam nanti besi itu selalu di tangannya, ia menusuk-nusukkannya ke perutnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka di neraka jahanam nanti ia akan terus meminumnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka di neraka jahanam nanti, ia akan menjatuhkan (dirinya) selama-lamanya.” (HR. Muslim, 109)

Jika Allah berkehendak, dosa bunuh diri bisa diampuni, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki.” (Qs. An-Nisa: 48)

Wallahu a’lam bishshawab

Senin, 15 Mei 2017

Selingkuh?

Karena Selingkuh Tak Dimulai Di Tempat Tidur Tapi Saat Kau Mulai Menghapus Pesannya
ByArio Refzan
Posted on March 23, 2017

“Aku itu dengannya hanya berteman”
Berapa banyak dari kamu yang berlindung di balik kata-kata ini?
Karena menurutmu apa yang kamu lakukan tidaklah menjadi bagian dari sebuah perselingkuhan.
Tidak ada sesuatu yang istimewa antara kamu dan kawan baikmu itu.
Tapi benarkah kamu tidak berselingkuh?

Kalau Hubunganmu Biasa Saja, Kenapa Kamu Harus Menghapus Pesannya?

Perselingkuhan itu bukan berarti kamu harus berhubungan dengannya atau menjalin hubungan fisik dengannya. Ketika kamu memutuskan menghapus pesannya, percayalah ketika itu kamu sudah mulai berselingkuh.
Karena tidak ada alasan kenapa pesanmu harus dihapus kecuali kamu tidak ingin orang lain membacanya.

Selingkuh Adalah Segala Hal Yang Tidak Akan Kamu Lakukan Jika Pasanganmu Ada Di Sebelahmu
kaki

Kamu selalu berkelit bahwa yang kamu lakukan bukanlah perselingkuhan. Ini adalah perkawanan biasa yang juga dilakukan oleh jutaan orang lain. Sebenarnya ada hal mudah yang bisa kamu jadikan patokan apakah tindakanmu itu termasuk selingkuh atau tidak.

Ketika Kamu bilang kalian hanya menyeruput kopi sama-sama karena kebetulan pulang satu arah. Sekarang bayangkan pasangan yang katanya kamu sayangi, ada di sebelahmu saat itu.
Masihkah kamu melakukan semua hal itu? Masihkah kamu memilih mampir dan bukannya meneruskan perjalanan bersama pasanganmu? Apakah semua pembicaraanmu saat itu akan sama jika pasanganmu ada di sebelahmu?

Jika jawabannya iya, maka besar kemungkinan itu bukan perselingkuhan.
Tapi jika hatimu mengatakan kamu tidak akan melakukannya jika pasanganmu ada, maka kamu sudah berselingkuh.

Selingkuh Dimulai Saat Kamu Berbagi Hal Di Belakang Pasanganmu
sedih

Gail Saltz, MD, Associate professor bidang psikiatri di New York-Presbyterian Hospital mengatakan perselingkuhan dimulai ketika kamu mulai menghabiskan energi-energi emosional kamu dengan orang selain pasanganmu.

Akhirnya kamu berbagi hal-hal yang tidak lagi kamu ceritakan dengan pasanganmu. Kamu bercerita pada orang lain itu, harapan masa depanmu, mimpi karirmu, hobi jalan-jalanmu, kesenanganmu akan puisi, renungan spiritualitasmu dan hal lainnya yang seharusnya bisa memperkuat ikatanmu jika saja kamu bagi dengan pasanganmu. Itulah kenapa hal ini termasuk berselingkuh.

Ketika Kamu Sudah Bergantung Secara Emosional, Pada Saat Itu Kamu Sudah Selingkuh

Pasanganmu seharusnya menjadi orang yang paling mengetahui keadaan emosimu.
Kapan kamu marah, kapan kamu senang, kapan kamu sedih dan lain sebagainya.
Namun seringnya yang kamu lakukan adalah lari kepada orang lain yang bukan pasanganmu ketika kamu emosi senang atau justru sedang buruk. Sesungguhnya inilah saat paling berbahaya dalam sebuah hubungan.

Menurut psikolog Janis Abrahms Spring, PhD, pengarang buku After the Affair: Healing the Pain and Rebuilding Trust When a Partner Has Been Unfaithful, ketergantungan emosional seperti ini sangat sulit untuk diputus.
Satu-satunya cara mengakhirinya adalah dengan memutus hubungan emosional itu secara total. Tidak ada kompromi setengah-setengah dengan membiarkan celah hubungan masih bisa terjalin.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Gail Saltz seperti dikutip dari WebMD.
Menurutnya Kamu harus mengakhiri hubungan itu, dan tidak ada setengah-setengah.
Jika kamu tidak mungkin memutus hubungan total (karena hubungan profesional pekerjaan) dengan orang tersebut, nyatakan secara tegas bahwa kamu tidak mau lagi melakukan hal tersebut (bercerita, berbagi) dengannya.

Tak Mau Memutus Silaturahmi Bukan Berarti Kamu Bebas Bercerita Apa Saja
pasangan

Ketika pasanganmu memintamu mengakhiri hubungan dengan “kawan” itu, alasan paling klasik yang sering digunakan adalah “aku tidak ingin memutus silaturahmi”.
Kalimat ini terdengar mulia.
Namun bukan berarti menjadi pembenar bahwa kamu boleh terus-terusan berbagi cerita dan perasaan dengan semua orang bukan?
Ada beda tegas antara menjaga tali silaturahmi dan tergantung secara emosional kepada orang lain.

Ketika Kamu Membelanya Mati-matian Di Saat Pasanganmu Rela Mati Untukmu

Untuk dia yang kamu sebut kawan biasa itu, kamu rela berkelahi dengan pasanganmu.
Mengatakan hal-hal buruk bahwa pasanganmu sakit dan terlalu mengekangmu.
Coba tanyakan pada dirimu, inginkah kamu membela pasanganmu di depan kawanmu itu?
Pernahkah kamu menyampaikan bahwa kamu tak bisa berhubungan karena pasanganmu keberatan?
Jika tidak, bukankah hubungan itu menjadi berat sebelah?
Siapa yang sebenarnya pasangan sejatimu itu?

Jenuh

Jenuh,terkadang bisa diartikan sebuah kata yang negatif.
Namun ternyata adakalanya dapat menjadi arti yang positif,bila kejenuhan itu kita amalkan dengan lebih mendekatkan diri kepada Alloh SWT
Pada akhirnya....
Semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.
Dan pada saat itu....
Kembali adalah yang terbaik...
Kepada siapa?
Kepada DIA pastinya....
Bismika Allohumma ahyaa wa amuut
~UJE~